Surga - Tempat Akhir yang Indah ?
Dalam obrolan dengan beberapa rekan beberapa waktu yang lalu, muncul pertanyaan iseng tapi layak untuk di renungkan. Bagaimana bila agama - agama besar itu muncul pada abad 21 ? apakah terjadi pergeseran makna dan prosesi ? apakah akan terjadi redefenisi dari idiom yang digunakan ? pewartaan agama tersebut akan luar biasa bila seorang rasul menggunakan e-mail, website, sms dll untuk berkomunikasi, bahkan biasa dibuat milis dan forum untuk diskusi ide - ide penulisan kitab suci yang akan dibuat.
Karena 17 - 20 abad kebelakang, teknologi belum muncul, ide bahwa bumi adalah pusat tata surya baru dipatahkan oleh Nicolaus Copernicus di abad 15 bahkan defenisi bumi datar baru dimentahkan pada abad ke 17 oleh Christophorus Columbus - Fakta bahwa defenisi yang digunakan masih sangat kuno dan tergantung dari lingkungan dimana agama itu lahir.
Kira - kira sisi ancaman atau kenikmatan yang ditawarkan akan berbeda,
di Neraka - mungkin bukan api atau besi panas lagi yang digunakan. Bisa saja pecandu narkoba dibiarkan sakaw (soalnya ini juga penyiksaan luar biasa) - boleh milih jenis siksaan, disetrum (dulu belum ada), di bom berulang - ulang (dulu juga belum dibuat), atau pakai metode Hannibal Lecter - Sayatan kecil yang membuat efek nyeri luar biasa (simpel & efektif) atau metode - metode penghukuman yang lebih efektif dan efisien dari sisi biaya dan tenaga (bagaimanapun juga Neraka dan penghuninya pasti punya sistem manajemen yang mengatur biaya - biaya tersebut) serta modern.
di Surga - nah beberapa defenisi yang ditawarkan adalah, suasana penuh nyanyian, kegembiraan (just feels happy), banyak buah, sungai susu dan madu, dipan penuh bidadari. Pertanyaannya ? gimana kalau diganti, ada tempat clubbing, ketersediaan broadband internet, 3d game console, oh ya … ada usulan dari yang suka nge-drug (asumsinya, ini nge-drug di dunia tapi nggak nyolong atau bikin kisruh, tipe nge-drug yang piss) tersedia aneka macam drug (gantinya susu dan madu - karena doi nggak suka minum susu dan madu — preffered coca cola <– yeee ini khan belum diproduksi juga abad ke 1 - ke 5 mas ..) jadi bisa nge-drug sepuasnya tapi bisa sadar dengan seketika juga.
Hanya membayangkan - what if ….
Hahaha.. menarik.
Buat gue, Surga itu tempat yang membosankan, karena menurut iman yg gue pegang, kerjaannya cuman memuji Tuhan ? oh gosh. Tapi hell yeah, kalo definisi surga bisa kaya yang loe buat, count me in!
Dan neraka ? oh man, kenapa orang pada takut neraka ? neraka itu bukan tempat yang ditakutkan, karena dunia itu lebih kejam dan menyedihkan daripada neraka, di neraka siksaan hanya siksaan jasmani.. didunia ? lengkap man, siksaan batiniah itu jauh lebih menyakitkan! hahahaha
@ Naldo
Iye ye … ga kepikiran kalau semua ancaman neraka itu jasmaniah semua | emang betul kalau di dunia dapatnya PaHe a.k.a Paket Hebring Komplit ! wqwqwwqwqwqw
Nicolaus Copernicus, Christophorus Columbus yang mencari2 gimana sih bentuk bumi itu??…sebenarnya teori penciptaan langit dan bumi sudah di sebutkan oleh Muhammad di Quran bahwa bumi itu bulat…
SURGA ADA DI TELAPAK KAKI IBU
SURGA- tempat semua keinginan kita tersedia & dikabulkan (maybe)
NERAKA- tempat dimana semua hal yang kita benci ada disitu (maybe)
intinya saya belum pernah ke surga/ neraka hehe
sorga itu telah dapat dialami saat ini dibumi ini, tidak usah menunggu mati. saat hidup ada damai sejahterah, hidup dalam kebenaran, saat sukacita ada dari dalam diri - itulah sorga.
khayalan manusia tentang surga dan neraka memang selalu merujuk pada ukuran dunia sesuai dengan waktu dan tempat serta nilai-nilai yang berlaku pada saat khayalan itu dibuatnya. intensitas kesenangan dan derita dilipatgandakan sesuai dengan kapasitas imajinasi si pengkhayal. kalau orang-orang yahudi/arab menggambarkan surga secara seksual (dengan madu, bidadari, kecantikan, keindahan, dsb) itu dikarenakan khayalan ybs tidak terwujud di wilayahnya. jika mau, para milyarder bisa membeli itu semua di dunia. sama halnya dengan siksa kubur yang dikhayalkan itu juga bisa dialami di dunia jika orang-orang seperti hitler menguasai dunia. jadi, tidak mengherankan kalau khayalan itu ‘time-bound’ dan ‘place-bound’. realitasnya, belum pernah ada orang yang bisa mengatakan dengan benar karena tak satupun orang mati hidup kembali dan bercerita kepada yang hidup.